Skip to main content

Posts

Semakin Ditantang, Semakin Dilawan

Dalam sebuah perjalanan, saya membaca sebuah spanduk besar di halaman sebuah rumah makan yang bunyinya begini "Jangan kembali kalau rasanya tidak enak!" . Sebuah kalimat yang sangat provokatif dan tidak biasa. Kalau laju kendaraan cukup lambat, dan tidak tergesa-gesa mungkin saya akan langsung membanting stir dan makan disitu. Slogan di atas jelas lebih menantang, karena yang biasanya adalah "Kalau enak, silakan sampaikan pada teman. Kalau tidak enak, silakan sampaikan pada kami". Atau ada juga yang memberi janji "Dijamin enak", atau "rasa bintang 5, harga kaki 5", dan sejenisnya. Sekarang, mari kita bandingkan dua jenis slogan di atas. Yang pertama adalah slogan yang isinya kalimat tantangan, dan slogan kedua adalah slogan yang isinya adalah kalimat janji atau penawaran. Slogan jenis kedua, paling-paling hanya menimbulkan rasa penasaran saja apakah janjinya benar atau tidak. Tapi kalau kita lihat slogan jenis pertama, ternyata selain menimbulka...

MagnetiCal; Atur uang mudah & praktis

Tahukah Anda tempat apa yang paling sering dikunjungi di rumah oleh seluruh anggota keluarga? Yang jelas bukan kamar tidur dan kamar mandi, karena kamar tidur hanya dikunjungi oleh pemiliknya masing-masing, dan kamar mandi pun hanya dikunjungi kurang dari 10 kali per hari per orang. Jawaban yang benar adalah kulkas...! Rata-rata setiap orang dalam satu rumah membuka pintu kulkas sampai dengan 15 kali per hari per orang. Jadi, kalau ingin menaruh sesuatu yang mudah dicari, atau bisa dilihat oleh semua anggota keluarga, tempatnya adalah.... KULKAS. Apa hubungannya kulkas dengan judul di atas? MagnetiCal, adalah tools mengelola keuangan yang memanfaatkan media kulkas sebagai sarana untuk menempelnya dengan bantuan magnet. Kelola Keuangan Anda dengan MagnetiCal, alat yang dapat merencakanan pengeluaran, mengingat tanggal penting pembayaran, mencatat pengeluaran, dan mengorganisir bukti pengeluaran. Tidak perlu repot menyalakan komputer, dan tidak perlu software khusus yang harus dipelajari...

Yang penting niat, bukan besarnya penghasilan

Banyak pertanyaan masuk via e-mail yang menanyakan, bahkan sampai bernada protes... bahwa konsep Cashflow4Muslim hanya untuk yang berpenghasilan besar saja. Sedangkan yang penghasilannya kecil mustahil bisa membagi penghasilan untuk sedekah, untuk bayar hutang, untuk nabung, dan untuk belanja. Bisa belanja gak pake ngutang aja udah bagus deh... begitu keluh kesah mereka. Melihat pertanyaan yang diajukan via imel, dan file C4M juga tersebar via imel, maka saya menyimpulkan bahwa mereka adalah masyarakat yang terdidik, setidaknya melek internet. Bekerja, artinya berpenghasilan rutin, walaupun mungkin sebatas UMR (menurut pengakuannya). Bahkan pernah ada satu imel "marah-marah" dan memprotes contoh yang diberikan karena menggunakan angka yang sangat besar, dan tidak mungkin bisa dilaksanakan. Padahal sudah berulang kali saya jelaskan bahwa contoh itu dibuat untuk peserta pelatihan, bukan untuk orang lain. Konsepnya bisa digunakan oleh siapapun, tapi yang namanya contoh tentu sa...

Bisnis 5 eMber

Bisnis 5 eM adalah bisnis yang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan modal sesendok, kita bisa dapat keuntungan sampai 5 eMber. Caranya mudah sekali, cukup dengan mendaftar dan menyetorkan biaya pendaftaran. Gak perlu merasa rugi, biayanya toh cuma sesendok saja. Jauh lebih murah daripada biaya listrik Anda sebulan. Kalaupun tidak berhasil, anggap saja beramal. Gak perlu kerja keras lagi, gak usah pusing-pusing lagi, cukup dengan mencari 4 orang untuk bergabung dengan Anda dalam bisnis ini maka Anda akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Dengan mengikuti bisnis ini, Anda akan kaya, dan Anda akan membuat orang lain juga menjadi kaya. Luar biasa sekali bukan…? Pernah mendapatkan tawaran seperti itu atau yang sejenisnya? Saya yakin sudah. Karena penawaran seperti ini sekarang ini luar biasa sekali bayaknya. Mulai dari yang tradisional dengan kertas fotokopian yang disebarkan atau ditaruh di bilik ATM, sampai pada yang modern yang diedarkan melalui imel di internet. Mulai dari yang m...

Hutang & Kesehatan Mental

Tau gak.... ternyata ada penelitian yang membuktikan bahwa kondisi hutang seseorang ternyata sangat berhubungan dengan kesehatan mental seseorang. Hasil kesimpulannya adalah: 1 dari 4 orang punya masalah kesehatan mental 1 dari 4 orang yang punya masalah kesehatan mental, juga terlibat masalah hutang 1 dari 2 orang yang punya masalah hutang, juga punya masalah kesehatan mental Masalah hutang bisa menjadi penyebab atau akibat dari masalah kesehatan mental Hhhmmm.... pantesan pasca pemilu gini banyak yang stress dan gadai-menggadai...

Biar gak Kecanduan Gaji

Bagaimana caranya biar gak kecanduan gaji? Biar bisa bebas belanja tanggal berapapun juga, biar gak moody tergantung tanggal, dan happy all-month-long... Gampang... jangan ambil duit gaji untuk keperluan bulanan, tapi ambil aja dari tabungan. Jadi, gaji masuk tabungan tiap tanggal gajian. Kita ambil tabungan sesuka kita lah. Anggap aja kita menggaji diri kita sendiri dari tabungan itu. Tapi inget lho, jangan ngambil dari tabungan lebih besar dari nominal gaji tiap bulan, bisa tekor nantinya. Ini syarat mutlak...! Syarat berikutnya adalah... kudu punya dana cadangan dulu, baru bisa deh jalanin strategi ini. Buat karyawan, dana cadangan yang harus disiapkan adalah 3-6 kali pengeluaran. Dan untuk pengusaha, dua kali lipat dari karyawan. So, bikin 1 rekening khusus untuk nampung gaji dan dana cadangan. Nah, silakan ambil sesuka hati mau kapan saja dari rekening itu (tapi jangan sesuka hati ya jumlahnya). Untuk nabung buat keperluan khusus, taronya di tempat lain ya biar gak nyampur dan ke...

Kecanduan Gaji

Ada penyakit baru lho.... gak baru-baru banget sih.... mungkin istilahnya aja yang baru, karena sebetulnya udah berabad-abad penyakit ini menghinggapi manusia, mungkin awalnya dari jaman revolusi industri di Prancis kali ya. Penyakit ini bernama "kecanduan gaji" dimana pengidapnya akan sangat menanti-nanti waktunya gajian tiba. Tapi jangan salah, penyakit ini beda dengan materialisme atau konsumerisme. Kalau materialisme lebih pada seseorang yang mengukur segalanya dengan duit, konsumerisme hubungannya dengan perilaku yang boros, sedangkan kecanduan gaji ini lebih pada ketergantungannya pada gajian dan betapa mood-nya naik turun bergantung pada tanggal. Beberapa gejalanya adalah sebagai berikut: - Menghitung-hitung kapan tanggal gajian berikutnya - Boros pada tanggal muda, hemat pada tanggal tua - Menu makan bergantung tanggal: begitu gajian makan di resto, hari berikutnya warung padang, besok-besok warteg lah... tanggal-tanggal tua yaa bawa makan aja dari rumah, atau puasa ...